By: Perindu Syahid
mencoba melerai benang kusut yang tlah lama trabaikan...
menguak kembali kisah-kisah usang yang dahulu jadi impian..
dan meleburkan aura diri dari kelelapan..........
aku ingin berubah...dan ku bertahan dalm perubahanku...
lagu itu yang terbesit dalam untaian fikir panjangku...
melabuhkan diri pada satu dermaga terakhir...
dermaga tepat kapal kecil itu bersandar,,,
mengisi bekal dan meregangkan kelelahan....
mereka semua tlah merapat..............
namun aku masih hanyut dalam buaian ombak lautan...
tanpa sadar bahwa badai laut siap membelai kapal kecil yang tak ada kekuatan...
ku hanya berharap..... seperti yelena berharap kepada Tuhan dalam lukanya,,,
jangan sombong kau anak muda...
tak ada hasil tanpa usaha...
kembalikan dirimu kepada kapal induk mu...
kapal yang bisa menghatarkan mu menuju gemercik pagi ditengah tumpukan salju...
karena kau hanya menyisir rindu tanpa mencoba memberikan shampo nutrisi.... yang menguatkan ikatannya.....
kembalilah hiasi rona mata yang dapat menaburkan kristal indah ,,,
melantunkan lagu kebenaran dari bibir lugu dikabut malam...
membuka telinga akan dunia dengkuran....
semoga hidupmu ridho Allah tercurahkan dalam setiap untaian malam..
Kamis, 30 September 2010
sebuah khayalan
salam kenangan hanya melambai manis...
melambai bagai daun kering terhembus angin...
tak ada kata.....
tak ada kerja....
tak ada usaha....
hanya kenangan yang selalu bersua...
melaju bagai F1 dalam lintasan dunia khayal..
ya.... hanya khayal yang tak diusahakan.....
aku melihat angan itu kembali....
kembali menuju perahu layar....
melabuhkan angan dan khayal tanpa kenyataan...
ia hanya dihempas ombak biru lautan...
bergeming bagai buih muntahan...
menjijikan.............!!!!!!!!
bangku pijakan belajar
tak kan kubiarkan usang....
karena perahu jalang yang mengobar tanpa kenyataan....
karena kutahu.... perahu itu kelak hanya jadi musium tontonan...
bahkan hanya sekedar acuhan.......
dia berada didepan karena ingin dikenal....
dasar kau pencundang....
ku tahu ipa ku tak bergeming....
diam hanya hening....
ia pun keruh bukan bening....
tak kurasakan siraman kenikmatan
kemarin,,, hari ini dan 2bulan sebelum pergantian.....
untuk kalian para mahasiswa...
ini bukan sindiran...
hanya koreksi sebuah pemerintahan...
melejitkan kurfa perubahan dalam kenyataan........
By: Perindu Keadilan
melambai bagai daun kering terhembus angin...
tak ada kata.....
tak ada kerja....
tak ada usaha....
hanya kenangan yang selalu bersua...
melaju bagai F1 dalam lintasan dunia khayal..
ya.... hanya khayal yang tak diusahakan.....
aku melihat angan itu kembali....
kembali menuju perahu layar....
melabuhkan angan dan khayal tanpa kenyataan...
ia hanya dihempas ombak biru lautan...
bergeming bagai buih muntahan...
menjijikan.............!!!!!!!!
bangku pijakan belajar
tak kan kubiarkan usang....
karena perahu jalang yang mengobar tanpa kenyataan....
karena kutahu.... perahu itu kelak hanya jadi musium tontonan...
bahkan hanya sekedar acuhan.......
dia berada didepan karena ingin dikenal....
dasar kau pencundang....
ku tahu ipa ku tak bergeming....
diam hanya hening....
ia pun keruh bukan bening....
tak kurasakan siraman kenikmatan
kemarin,,, hari ini dan 2bulan sebelum pergantian.....
untuk kalian para mahasiswa...
ini bukan sindiran...
hanya koreksi sebuah pemerintahan...
melejitkan kurfa perubahan dalam kenyataan........
By: Perindu Keadilan
catatan perindu syahid
tak kurasa, ini sebuah kenyataan, indah dan penuh cinta...
walau badan tak bertambah besar
tinggi tak jadi semampai...
malaikat kecil pun berbisik,
hai, kau... jatah mu tinggal sebentar... jangan macam-macam..
tusukannya mengena dalam seperti palung..
jalanku tetap tertatih,, demi menumpahkan air dari gayung yg merintih...
mata yang celak ini masih tertutup malu,,, entah kenapa?
padahal ia biasa mengumbar kejayaannya ditengah bola..
sayup-sayup gelap asrama.. tetap menuntun jemariku untuk menggelar rajutan benang...
tak tau yang kubaca... tapi rasanya badan tlah berkuasa... ia menggerakkan mulut, mata dan telinga...
mulutku hanya sekedar berkomat-kamit
mataku terkadang mengedip tapi ia lama mengintip.....
ketika sujudku tak berkutik...
hatiku mulai membuka mata.. dan berkata ;
"hai sahabat... kau bertambah tua...usiamu hampir berkepala dua..tapi mengapa tak kau jadikan aku teman bicara?"
jiwaku mendenganya, ia sedikit tertawa dengan angkuhnya.
tapi lama ia pahami,,, benar adanya umurku saat ini 19 tahun..
ragaku dengan lembut menyapa : sobat, badanmu masih mungil,, kakimu pun belum berakar..
kau masih muda kawan...."
jiwaku menyahut : benar... lantas apakah aku harus tetap diam? diam karena tak berkekuatan?
hamparan sujud itu menjadi peperangan...
perang hati perang fikri dan perang jasmani yang belum akur dalam perjalanan umurnya..
sujud ini adalah ilham dari sang Ilahi,,
sentilan untuk kemalasan hati,jiwa,dan ruhku... yang belum berirama dalam langkahnya..
ini bisikan sayang dari Ar Rahim... agar aku tak salah melangkah...
agar aku tak terjatuh dalam jurang... karena syetan telah siap bersorak-sorai bertepuk tangan nantinya,,,
Usiaku ,, memang masih hitungan jari...
masih meraba-raba yang mana hitam dan yang mana putih..
tapi dalam sujudku nanti,,, tak akan ku temui sajak abu-abu..
sajak yang membawa kebimbangan...
yang ada hanya putih menutupi sang hitam... walau kadang hitam tak ingin kalah rebutan..
aku menutup,, dzikirku dg takbir....
semoga hari-hariku saat ini menjadi hari-hari yang penuh dg kemenangan...
perjuangan,, pertarungan untuk menyudahi kemalasan hati...
gerakan lentik jemari mengusap sela-sela kerutan yang terbasahi embun mata pagi...
15 juni 1991 - 15 juni 2010
walau badan tak bertambah besar
tinggi tak jadi semampai...
malaikat kecil pun berbisik,
hai, kau... jatah mu tinggal sebentar... jangan macam-macam..
tusukannya mengena dalam seperti palung..
jalanku tetap tertatih,, demi menumpahkan air dari gayung yg merintih...
mata yang celak ini masih tertutup malu,,, entah kenapa?
padahal ia biasa mengumbar kejayaannya ditengah bola..
sayup-sayup gelap asrama.. tetap menuntun jemariku untuk menggelar rajutan benang...
tak tau yang kubaca... tapi rasanya badan tlah berkuasa... ia menggerakkan mulut, mata dan telinga...
mulutku hanya sekedar berkomat-kamit
mataku terkadang mengedip tapi ia lama mengintip.....
ketika sujudku tak berkutik...
hatiku mulai membuka mata.. dan berkata ;
"hai sahabat... kau bertambah tua...usiamu hampir berkepala dua..tapi mengapa tak kau jadikan aku teman bicara?"
jiwaku mendenganya, ia sedikit tertawa dengan angkuhnya.
tapi lama ia pahami,,, benar adanya umurku saat ini 19 tahun..
ragaku dengan lembut menyapa : sobat, badanmu masih mungil,, kakimu pun belum berakar..
kau masih muda kawan...."
jiwaku menyahut : benar... lantas apakah aku harus tetap diam? diam karena tak berkekuatan?
hamparan sujud itu menjadi peperangan...
perang hati perang fikri dan perang jasmani yang belum akur dalam perjalanan umurnya..
sujud ini adalah ilham dari sang Ilahi,,
sentilan untuk kemalasan hati,jiwa,dan ruhku... yang belum berirama dalam langkahnya..
ini bisikan sayang dari Ar Rahim... agar aku tak salah melangkah...
agar aku tak terjatuh dalam jurang... karena syetan telah siap bersorak-sorai bertepuk tangan nantinya,,,
Usiaku ,, memang masih hitungan jari...
masih meraba-raba yang mana hitam dan yang mana putih..
tapi dalam sujudku nanti,,, tak akan ku temui sajak abu-abu..
sajak yang membawa kebimbangan...
yang ada hanya putih menutupi sang hitam... walau kadang hitam tak ingin kalah rebutan..
aku menutup,, dzikirku dg takbir....
semoga hari-hariku saat ini menjadi hari-hari yang penuh dg kemenangan...
perjuangan,, pertarungan untuk menyudahi kemalasan hati...
gerakan lentik jemari mengusap sela-sela kerutan yang terbasahi embun mata pagi...
15 juni 1991 - 15 juni 2010
mimpi
sebuah rahasia besar memang, seseorang wajib bermimpi.
karena dengan bermimpi maka Allah akan memeluk mimpi-mimpi itu.
indahnya bukan sekedar bayangan tapi, lebih dari sengatan lebah yang membuat orang merasakannya sangat lama. bahkan ia membekas untuk selamanya. tapi ia bukan lah koreng yang merusak, ia sebuah kenangan merah, biru dan putih di kepala.
kini, benar adanya bahwa seorang perindu syahid tak lagi berkuliah di UIN Jakarta, sesuai dengan kata2nya yang tak lepas dari bibir belaka. tapi layaknya tekad baja yang kuat dan terus menggema di telinga.
ia tak lagi di uin jakarta.
ia telah berkelana keliling dunia.
selamat tinggal dunia fana,dan selamat datang syurga...
kini ia melambaikan jemarinya di balik awan putih.. di terik bulan purnama. ia indah dan tak berwarna, karena warnanya hanya melukai awan yang ingin berkarya..
impian berikutnya siap menghadang didepan mata..
maka bersiaplah bagi yang ingin mencicipinya.
bersiap merangkul mimpi-mimpi indah syurga yang telah kuat membaja..
catatan hati sang perindu syahid
karena dengan bermimpi maka Allah akan memeluk mimpi-mimpi itu.
indahnya bukan sekedar bayangan tapi, lebih dari sengatan lebah yang membuat orang merasakannya sangat lama. bahkan ia membekas untuk selamanya. tapi ia bukan lah koreng yang merusak, ia sebuah kenangan merah, biru dan putih di kepala.
kini, benar adanya bahwa seorang perindu syahid tak lagi berkuliah di UIN Jakarta, sesuai dengan kata2nya yang tak lepas dari bibir belaka. tapi layaknya tekad baja yang kuat dan terus menggema di telinga.
ia tak lagi di uin jakarta.
ia telah berkelana keliling dunia.
selamat tinggal dunia fana,dan selamat datang syurga...
kini ia melambaikan jemarinya di balik awan putih.. di terik bulan purnama. ia indah dan tak berwarna, karena warnanya hanya melukai awan yang ingin berkarya..
impian berikutnya siap menghadang didepan mata..
maka bersiaplah bagi yang ingin mencicipinya.
bersiap merangkul mimpi-mimpi indah syurga yang telah kuat membaja..
catatan hati sang perindu syahid
Fatwa Syaikh bin Baaz; Larangan Saling Mencaci
Fatwa ini dikeluarkan olehnya akibat munculnya kelompok dakwah garis keras yang terkenal mudah mengeluarkan cacian dan makian terhadap para tokoh dakwah di dunia Islam. Tentunya fatwa ini berlaku umum kepada siapa saja yang memiliki karakter tercela seperti penjelasan syaikh bin Baaz.
Dalam fatwa yang dikeluarkan oleh Dewan Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah dan Bimbingan Islam Kerajaan Saudi Arabia, tanggal 17/6/1414 H, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz (meninggal pada bulan Mei 1999) mengatakan :
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan mereka yang mengikutinya sampai akhir zaman.
Sesungguhnya Allah SWT memerinmtahkan kita untuk berlaku adil dan berbuat baik, serta meninggalkan segala bentuk penganiayaan, kesewenangan dan permusuhan. Allah SWT telah mengutus Nabi Muhammad SAW dengan risalah yang juga telah diemban oleh paa Rasul sebelumnya, berupa seruan untuk bertauhid dan memurnikan ibadah kepada Allah SWT semata. Allah jga memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menegakkan keadilan dan melarangnya dari segala bentuk ketidakadilan; baik berupa penyembahan selain Allah, atau perpecahan, perselisihan dan penganiayaan atas hak-hak orang lain.
Akhir-akhir ini, telah menjadi wacana publik bahwa ada sekelompok orang yang dikenal sering bergelut dengan masalah-masalah keilmuan Islam dan dakwah, melecehkan kehormatan saudara-saudara mereka dari kalangan aktivis dakwah Islam terkemuka. Mereka juga melecehkan kehormatan para penuntut ilmu, para da’i dan para penceramah. Kadang mereka melakukannya secara tersembunyi di tempat-tempat pengajian mereka atau direkam di kaset-kaset dan disebarkan di tengah-tengah masyarakat. Dan kadang pula hal itu dilakukan secara terang-terangan dalam pengajian-pengajian umum di masjid-masjid. Perbuatan ini sangat bertentangan dengan apa yang diperintahkan Allah SWT kepada Rasul-Nya.
Lebih jelasnya pertentangan itu dapat dilihat dari berbagi sisi sebagai berikut :
1. Perbuatan ini adalah bentuk penganiayaan terhadap hak-hak umat Islam. Apatah lagi bila mereka yang dilecehkan tersebut adalah para penuntut ilmu dan para da’i yang telah mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk membangun kesadaran beragama masyarakat, membimbing mereka, serta memperbaiki kekeliruan-kekeliruan pemahaman mereka tentang akidah dan sistem hidup. Dan mereka pulalah yang telah bekerja keras untuk mengorganisir pengajian-pengajian dan ceramah-ceramah agama, serta menulis buku-buku yang bermanfaat.
2. Perbuatan ini adalah upaya memecah belah persatuan umat Islam dan mengoyakkan barisan mereka. Sementara mereka sangat membutuhkan adanya persatuan dan tiadanya perpecahan, perselisihan dan perdebatan yang sia-sia di antara mereka. Apatah lagi bila para da’i yang dilecehkan tersebut berasal dari kalangan ahlu sunnah wal jamaah yang terkenal dengan kerja nyata mereka dalam memerangi bid’ah dan khurafat, menentang para penyerunya, serta menyingkap makar dan tipu daya mereka. Kami memandang bahwa tidak ada sedikit pun maslahat dibalik perbuatan ini kecuali bagi musuh-musuh Islam dari kalangan orang-orang kafir dan munafiq, atau ahli bid’ah dan kesesatan yang sangat mengidam-idamkan kehancuran umat Islam.
3. Perbuatan ini mengandung dukungan dan dorongan kepada para sekularis, westernis dan musuh-musuh Islam lainnya yang terkenal sebagai kelompok-kelompok yang selalu melecehkan, menyebarkan isu-isu bohong dan menghasut masyarakat untuk memusuhi para aktivis dakwah Islam lewat buku-buku dan kaset mereka. Adalah bertentangan dengan konsekwensi ukhuwwah Islamiyah ketika orang-orang yang tergesa-gesa ini mendukung musuh-musuh mereka menghadapi saudara-saudara mereka sendiri dari kalangan para penuntut ilmu dan para aktivis dakwah Islam.
4. Perbuatan ini sangat berandil besar dalam merusak hati dan perasaan seluruh lapisan masyarakat, menyebar luaskan berbagai kebohongan dan isu-isu dusta, menjadi sebab maraknya gunjing menggunjing dan adu domba serta membuka pintu selebar-lebarnya bagi manusia-manusia berjiwa kerdil yang hobinya menyebarkan isu-isu negatif, menguakan simpul-simpul fitnah dan selalu ingin menyakiti orang-orang beriman dengan dalil dan alasan yang dibuat-buat.
5. Banyak sekali pernyataan-pernyatan yang dimunculkan itu, tidak benar adanya, sebaliknya pernyatan-pernyataan tersebut hanyalah paraduga-praduga atau sangkaan-sangkaan yang dihiasi oleh setan kepada mereka yang termakan oleh tipu dayanya. Allah SWT berfirman :
“Hai orang-orang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian orang diantara kamu menggunjing sebagian yang lain” (Al Hujuraat : 12)
Seorang muslim sebaiknya berusaha memahami perkataan saudaranya sesama muslim dengan penafsiran yang paling baik. Sebagian ulama salaf pernah berkata: “janganlah berprasangka buruk tentang sebuah pernyataan yang diungkapkan oleh saudaramu sesama muslim, sementara engkau dapat memahaminya dengan penafsiran yang baik”.
6. Ijtihad yang dilakukan oleh seorang ulama atau penuntut ilmu yang layak ijtihad pada masalah-masalah ijtihadiyah tidak boleh diingkari dan ditentang. Bila ada yang berbeda pendapat dengannya pada masalah-masalah tersebut, maka yang lebih tepat dilakukan adalah mengajaknya berdiskusi (berdebat) dengan cara yang paling baik, demi mencapai kebenaran dengan mudah dan menutup jalan bagi bisikan-bisikan setan berikut tipu dayanya untuk memecah belah persatuan umat Islam. Tapi bila itu sulit dilakukan, sedang orang yang berbeda pendapat tersebut ingin menjelaskan kesalahan ijtihad ulama atau penuntut ilmu yang lain, maka hendaklah itu dilakukan dengan ungkapan yang baik, sindirian yang lembut dan tanpa pelecehan, pencelaan atau kata-kata kasar yang bisa menyebabkan penolakan terhadap kebenaran, serta tanpa tudingan terhadap pribadi-pribadi, tuduhan terhadap niat-niat orang lain, atau pembicaraan berlebihan yang tidak dibutuhkan. Bukankah dalam hal-hal seperti ini Rasulullah SAW selalu berkata :
“Mengapa ada orang-orang yang mengatakan begini dan begitu?”
Maka yang ingin aku nasehatkan kepada ikhwah (saudara-saudaraku) yang melecehkan kehormatan para da’i dan menghina mereka supaya bertobat kepada Allah SWT dari apa-apa yang pernah dituliskan oleh tangan-tangan mereka atau diucapkan oleh lidah-lidah mereka yang telah ikut andil dalam merusak hati dan perasaan sebagian pemuda Islam, memenuhinya dengan rasa iri dan dengki, menyibukkan mereka dengan gunjing-menggunjing, membahas tentang fulan dan fulan, memaksakan diri untuk mencari-cari kesalahan orang lain yang akhirnya memalingkan mereka dari menuntut ilmu yang bermanfaat dan berdakwah di jalan Allah SWT.
Aku juga menasehati mereka agar menebus (kaffarah) kesalahan yang mereka lakukan dengan cara menulis atau lainnya, untuk membebaskan diri mereka dari perbuatan seperti ini dan menghilangkan pemikiran-pemikiran salah yang telah tertanam dibenak sebagian orang yang sering mendengarkan pembicaraan mereka, berikut mengalihkan perhatian mereka kepada amal-amal produktif yang mendekatkan diri mereka kepada Allah SWT dan bermanfaat bagi hamba-hambaNya. Aku juga menasehati mereka agar berhati-hati untuk tidak tergesa-gesa dalam menyebutkan hukum kafir, fasik atau bid’ah kepada orang lain tanpa bukti dan kejelasan, karena Rasulullah SAW bersabda :
“Barang siapa yang berkata kepada saudaranya sesama muslim wahai kafir maka makna kata itu pasti berlaku bagi salah seorang di antara mereka berdua” (Mutafaqun ‘ala shihatihi).
Secara syar’i adalah tepat bagi para dai dan penuntut ilmu yang menemukan kesulitan dalam memahami perkataan sebagian ulama ataupun selain ulama, untuk merujuk dan bertanya kepada para ulama yang berkompeten, agar mereka mendapatkan penjelasan yang gamblang, memahami subtansi masalah dan menghilangkan segala keragu-raguan dan syubhat yang ada pada diri mereka, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinnya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti syetan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu)” (Annisa’ : 83)
Semoga Allah SWT –yang hanya kepada-Nya kita meminta- memperbaiki keadaan umat Islam seluruhnya, menyatukan hati-hati mereka dan memberikan taufiq-Nya kepada para ulam dan para da’i untuk selalu melakukan hal-hal yang diridloinya, bermanfaat bagi hamba-hambaNya, menyatukan konsep mereka di atas petunjuk-Nya, menghindarkan mereka dari pemicu-pemicu perpecahan dan pertentangan, serta menjadikan mereka sebagai pembela kebenaran dan pemberantas kebatilan.
Sesungguhnya hanya Allah SWT yang sanggup dan mampu melakukannya.
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz
Ketua Umum
Dewan Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah dan Bimbingan Islam Kerajaan Saudi Arabiyah
Dalam fatwa yang dikeluarkan oleh Dewan Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah dan Bimbingan Islam Kerajaan Saudi Arabia, tanggal 17/6/1414 H, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz (meninggal pada bulan Mei 1999) mengatakan :
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Salawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan mereka yang mengikutinya sampai akhir zaman.
Sesungguhnya Allah SWT memerinmtahkan kita untuk berlaku adil dan berbuat baik, serta meninggalkan segala bentuk penganiayaan, kesewenangan dan permusuhan. Allah SWT telah mengutus Nabi Muhammad SAW dengan risalah yang juga telah diemban oleh paa Rasul sebelumnya, berupa seruan untuk bertauhid dan memurnikan ibadah kepada Allah SWT semata. Allah jga memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menegakkan keadilan dan melarangnya dari segala bentuk ketidakadilan; baik berupa penyembahan selain Allah, atau perpecahan, perselisihan dan penganiayaan atas hak-hak orang lain.
Akhir-akhir ini, telah menjadi wacana publik bahwa ada sekelompok orang yang dikenal sering bergelut dengan masalah-masalah keilmuan Islam dan dakwah, melecehkan kehormatan saudara-saudara mereka dari kalangan aktivis dakwah Islam terkemuka. Mereka juga melecehkan kehormatan para penuntut ilmu, para da’i dan para penceramah. Kadang mereka melakukannya secara tersembunyi di tempat-tempat pengajian mereka atau direkam di kaset-kaset dan disebarkan di tengah-tengah masyarakat. Dan kadang pula hal itu dilakukan secara terang-terangan dalam pengajian-pengajian umum di masjid-masjid. Perbuatan ini sangat bertentangan dengan apa yang diperintahkan Allah SWT kepada Rasul-Nya.
Lebih jelasnya pertentangan itu dapat dilihat dari berbagi sisi sebagai berikut :
1. Perbuatan ini adalah bentuk penganiayaan terhadap hak-hak umat Islam. Apatah lagi bila mereka yang dilecehkan tersebut adalah para penuntut ilmu dan para da’i yang telah mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk membangun kesadaran beragama masyarakat, membimbing mereka, serta memperbaiki kekeliruan-kekeliruan pemahaman mereka tentang akidah dan sistem hidup. Dan mereka pulalah yang telah bekerja keras untuk mengorganisir pengajian-pengajian dan ceramah-ceramah agama, serta menulis buku-buku yang bermanfaat.
2. Perbuatan ini adalah upaya memecah belah persatuan umat Islam dan mengoyakkan barisan mereka. Sementara mereka sangat membutuhkan adanya persatuan dan tiadanya perpecahan, perselisihan dan perdebatan yang sia-sia di antara mereka. Apatah lagi bila para da’i yang dilecehkan tersebut berasal dari kalangan ahlu sunnah wal jamaah yang terkenal dengan kerja nyata mereka dalam memerangi bid’ah dan khurafat, menentang para penyerunya, serta menyingkap makar dan tipu daya mereka. Kami memandang bahwa tidak ada sedikit pun maslahat dibalik perbuatan ini kecuali bagi musuh-musuh Islam dari kalangan orang-orang kafir dan munafiq, atau ahli bid’ah dan kesesatan yang sangat mengidam-idamkan kehancuran umat Islam.
3. Perbuatan ini mengandung dukungan dan dorongan kepada para sekularis, westernis dan musuh-musuh Islam lainnya yang terkenal sebagai kelompok-kelompok yang selalu melecehkan, menyebarkan isu-isu bohong dan menghasut masyarakat untuk memusuhi para aktivis dakwah Islam lewat buku-buku dan kaset mereka. Adalah bertentangan dengan konsekwensi ukhuwwah Islamiyah ketika orang-orang yang tergesa-gesa ini mendukung musuh-musuh mereka menghadapi saudara-saudara mereka sendiri dari kalangan para penuntut ilmu dan para aktivis dakwah Islam.
4. Perbuatan ini sangat berandil besar dalam merusak hati dan perasaan seluruh lapisan masyarakat, menyebar luaskan berbagai kebohongan dan isu-isu dusta, menjadi sebab maraknya gunjing menggunjing dan adu domba serta membuka pintu selebar-lebarnya bagi manusia-manusia berjiwa kerdil yang hobinya menyebarkan isu-isu negatif, menguakan simpul-simpul fitnah dan selalu ingin menyakiti orang-orang beriman dengan dalil dan alasan yang dibuat-buat.
5. Banyak sekali pernyataan-pernyatan yang dimunculkan itu, tidak benar adanya, sebaliknya pernyatan-pernyataan tersebut hanyalah paraduga-praduga atau sangkaan-sangkaan yang dihiasi oleh setan kepada mereka yang termakan oleh tipu dayanya. Allah SWT berfirman :
“Hai orang-orang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian orang diantara kamu menggunjing sebagian yang lain” (Al Hujuraat : 12)
Seorang muslim sebaiknya berusaha memahami perkataan saudaranya sesama muslim dengan penafsiran yang paling baik. Sebagian ulama salaf pernah berkata: “janganlah berprasangka buruk tentang sebuah pernyataan yang diungkapkan oleh saudaramu sesama muslim, sementara engkau dapat memahaminya dengan penafsiran yang baik”.
6. Ijtihad yang dilakukan oleh seorang ulama atau penuntut ilmu yang layak ijtihad pada masalah-masalah ijtihadiyah tidak boleh diingkari dan ditentang. Bila ada yang berbeda pendapat dengannya pada masalah-masalah tersebut, maka yang lebih tepat dilakukan adalah mengajaknya berdiskusi (berdebat) dengan cara yang paling baik, demi mencapai kebenaran dengan mudah dan menutup jalan bagi bisikan-bisikan setan berikut tipu dayanya untuk memecah belah persatuan umat Islam. Tapi bila itu sulit dilakukan, sedang orang yang berbeda pendapat tersebut ingin menjelaskan kesalahan ijtihad ulama atau penuntut ilmu yang lain, maka hendaklah itu dilakukan dengan ungkapan yang baik, sindirian yang lembut dan tanpa pelecehan, pencelaan atau kata-kata kasar yang bisa menyebabkan penolakan terhadap kebenaran, serta tanpa tudingan terhadap pribadi-pribadi, tuduhan terhadap niat-niat orang lain, atau pembicaraan berlebihan yang tidak dibutuhkan. Bukankah dalam hal-hal seperti ini Rasulullah SAW selalu berkata :
“Mengapa ada orang-orang yang mengatakan begini dan begitu?”
Maka yang ingin aku nasehatkan kepada ikhwah (saudara-saudaraku) yang melecehkan kehormatan para da’i dan menghina mereka supaya bertobat kepada Allah SWT dari apa-apa yang pernah dituliskan oleh tangan-tangan mereka atau diucapkan oleh lidah-lidah mereka yang telah ikut andil dalam merusak hati dan perasaan sebagian pemuda Islam, memenuhinya dengan rasa iri dan dengki, menyibukkan mereka dengan gunjing-menggunjing, membahas tentang fulan dan fulan, memaksakan diri untuk mencari-cari kesalahan orang lain yang akhirnya memalingkan mereka dari menuntut ilmu yang bermanfaat dan berdakwah di jalan Allah SWT.
Aku juga menasehati mereka agar menebus (kaffarah) kesalahan yang mereka lakukan dengan cara menulis atau lainnya, untuk membebaskan diri mereka dari perbuatan seperti ini dan menghilangkan pemikiran-pemikiran salah yang telah tertanam dibenak sebagian orang yang sering mendengarkan pembicaraan mereka, berikut mengalihkan perhatian mereka kepada amal-amal produktif yang mendekatkan diri mereka kepada Allah SWT dan bermanfaat bagi hamba-hambaNya. Aku juga menasehati mereka agar berhati-hati untuk tidak tergesa-gesa dalam menyebutkan hukum kafir, fasik atau bid’ah kepada orang lain tanpa bukti dan kejelasan, karena Rasulullah SAW bersabda :
“Barang siapa yang berkata kepada saudaranya sesama muslim wahai kafir maka makna kata itu pasti berlaku bagi salah seorang di antara mereka berdua” (Mutafaqun ‘ala shihatihi).
Secara syar’i adalah tepat bagi para dai dan penuntut ilmu yang menemukan kesulitan dalam memahami perkataan sebagian ulama ataupun selain ulama, untuk merujuk dan bertanya kepada para ulama yang berkompeten, agar mereka mendapatkan penjelasan yang gamblang, memahami subtansi masalah dan menghilangkan segala keragu-raguan dan syubhat yang ada pada diri mereka, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinnya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti syetan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu)” (Annisa’ : 83)
Semoga Allah SWT –yang hanya kepada-Nya kita meminta- memperbaiki keadaan umat Islam seluruhnya, menyatukan hati-hati mereka dan memberikan taufiq-Nya kepada para ulam dan para da’i untuk selalu melakukan hal-hal yang diridloinya, bermanfaat bagi hamba-hambaNya, menyatukan konsep mereka di atas petunjuk-Nya, menghindarkan mereka dari pemicu-pemicu perpecahan dan pertentangan, serta menjadikan mereka sebagai pembela kebenaran dan pemberantas kebatilan.
Sesungguhnya hanya Allah SWT yang sanggup dan mampu melakukannya.
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz
Ketua Umum
Dewan Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah dan Bimbingan Islam Kerajaan Saudi Arabiyah
FATWA SYAIKH ABDULLAH BIN JIBRIN (ANGGOTA HA’IAH KIBARIL ‘ULAMA AL-MAMLAKAH AL-’ARABIYYAH AS-SU’UDIYYAH) TENTANG HASAN AL-BANNA DAN SAYID QUTHUBAkhir-
FATWA SYAIKH ABDULLAH BIN JIBRIN (ANGGOTA HA’IAH KIBARIL ‘ULAMA AL-MAMLAKAH AL-’ARABIYYAH AS-SU’UDIYYAH) TENTANG HASAN AL-BANNA DAN SAYID QUTHUBAkhir-
akhir ini kita sering mendengar, diantara saudara sesama muslim menyebarkan isu tentang tuduhan adanya penyimpangan dua orang ulama Mesir; As-Syahid Hasan Al-Banna dan Sayyid Quthub, keduanya dianggap sebagai pawang ahli bid’ah dan pembawa ajaran sesat, bahkan ada yang berarti menyatakan: “Sungguh, membaca buku porno lebih baik daripada membaca buku-buku tulisan tokoh sesat dan menyesatkan dari golongan Ikhwanul Muslim seperti Hasan Albanna, Muhammad Al-Ghazali, Yusuf Qharadawi, atau orang-orang yang sejenis”. (Astaghfirullah al-azhim) sumber dari salah satu email (pembela_sunnah@yahoo.co.id). Padahal dirinya -seperti yang ditulis dalam situs tersebut- menyatakan diri sebagai pembela sunnah tapi mengapa sampai keluar pernyataan seperti itu… semoga kita terlindung dari kata-kata, pernyataan dan ungkapan yang tidak sebenarnya… karena jika benar demikian, maka rugilah kita, banyaknya amal kebaikan yang kita lakukan akan sirna begitu saja oleh karena ungkapan yang tidak sebenarnya, bahkan kelak Allah akan diambil kebaikan orang yang mengungkapkan sesuatu yang tidak sebenarnya untuk diberikan kepada orang yang dituduhkannya… Naudzubillah min dzalik…Berikut kami sajikan ungkapan salah seorang ulama anggota lembaga ulama Saudi tentang sikap beliau terhadap Imam As-Syahid Hasan Al-Banna dan As-Syahid Sayyid Qutbub…Segala puji bagi Allah semata.Menggelari orang lain sebagai mubtadi’ (pelaku bid’ah) atau fasik (pelaku dosa besar) adalah perbuatan yang tidak dibenarkan atas umat Islam, karena Rasulullah bersabda:“Barangsiapa yang mengatakan kepada saudaranya: “Wahai musuh Allah”, sedang kenyataannya tidak seperti itu, maka ucapannya itu menimpa dirinya sendiri.” (Muslim).“Barangsiapa yang mengkafirkan seorang muslim, maka ucapan itu tepat adanya pada salah satu di antara keduanya.” ( Al-Bukhari dan Muslim).“Bahwa ada seseorang yang melihat orang lain melakukan dosa, lalu ia berkata kepadanya: ‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu’. Maka Allah berfirman: ‘Siapakah gerangan yang bersumpah atas (Nama)Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuninya dan Aku gugurkan (pahala) amalmu’.” (HR. Muslim).Kemudian saya ingin mengatakan bahwa Sayid Quthub dan Hasan Al-Banna termasuk para ulama dan tokoh dakwah Islam. Melalui dakwah mereka berdua, Allah telah memberi hidayah kepada ribuan manusia.
Partisipasi dan andil dakwah mereka berdua tak mungkin diingkari. Itulah sebabnya, Syaikh Abdulaziz bin Baaz mengajukan permohonan dengan nada yang lemah lembut kepada Presiden Mesir saat itu, Jamal Abdunnaser “ semoga Allah membalasnya dengan ganjaran yang setimpal – untuk menarik kembali keputusannya menjatuhkan hukuman mati atas Sayid Quthub, meskipun pada akhirnya permohonan Syaikh Bin Baaz tersebut ditolak.Setelah mereka berdua (Sayid Quthub dan Hasan Al-Banna) dibunuh, nama keduanya selalu disandangi sebutan “Asy-Syahid” karena mereka dibunuh dalam keadaan terzalimi dan teraniaya. Penyandangan sebutan “Asy-Syahid” tersebut diakui oleh seluruh lapisan masyarakat dan tersebarluaskan lewat media massa dan buku-buku tanpa adanya protes atau penolakan.Buku-buku mereka berdua diterima oleh para ulama, dan Allah memberikan manfaat – dengan dakwah mereka – kepada hamba-hambaNya, serta tak ada seorang pun yang telah melemparkan tuduhan kepada mereka berdua selama lebih dari duapuluh tahun. Bila ada kesalahan yang mereka lakukan, maka hal yang sama telah dilakukan oleh Imam Nawawi, Imam Suyuthi, Imam Ibnul Jauzi, Imam Ibnu ‘Athiyah, Imam Al-Khaththabi, Imam Al-Qasthalani, dan yang lainnya.Saya telah membaca apa yang ditulis oleh Syaikh Rabie’ bin Hadi Al-Madkhali (ulama muda Saudi yang anti IKHWAN-pen) tentang kitab bantahannya terhadap Sayid Quthub, tapi saya melihat tulisannya itu sebagai contoh pemberian judul yang sama sekali jauh dari kenyataan yang benar. Karena itulah, tulisannya tersebut dibantah oleh Syaikh Bakr Abu Zaid (juga anggota hai’ah Kibaril ‘Ulama KSA-pen) hafidzhahullahMata
cinta # terasa letih memandang aibTapi mata benci # selalu melihat
aibAbdullah bin Abdurrahman bin Jibrin26 Shafar 1417 H
.فتوى سماحة الشيخ عبدالله بن جبرين
في ( حسن البنا وسيد قطب ( رحمهما الله ):الحمد لله وحده، وبعد : لا يجوز التبديع والتفسيق للمسلمين لقول النبي صلى الله عليه وسلم: ((من قال لأخيه يا عدو الله وليس كذلك إلاَّ حار عليه )) . وفي الحديث : (( أنَّ من كفر مسلمـًا فقد باء بها أحدهما )) . وفي الحديث : (( أنَّ رجلاً مَـرَّ برجل وهو يعمل ذنبـًا فقال : والله لا يغفر الله لك . فقال : من ذا الذي يتألى عليَّ ألاَّ أغفر لفلان، إنَّي غفرت له وأحبطت عملك )) . ثم أقـول : إنَّ سيد قطب وحسن البنا من علماء المسلمين، ومن أهل الدعوة، وقد نفع الله بهما وهدى بدعوتهما خلقـًا كثيرًا، ولهما جهود لا تنكر، ولأجل ذلك شفع الشيخ : عبد العزيز بن باز في سيد قطب عند ما قرر عليه القتل، وتلطّف في الشفاعة فلم يقبل شفاعته الرئيس جمال، عليه من الله ما يستحق . ولَمَّا قتل كل منهما أطلق على كل واحد أنَّه شهيد؛ لأنَّه قتل ظلمـًا، وشهد بذلك الخاص والعام، ونشر ذلك في الصحف والكتب بدون إنكار . ثم تلقّى العلماء كتبهما، ونفع الله فيها، ولم يطعن أحد فيهما منذ أكثر من عشرين عامـًا . وإذا وقع منهما أخطاء يسيرة في التأويل أو نحوه فلا يصل إلى حدّ التكفير، فإنَّ العلماء الأوّلين لهم مثل ذلك، كالنووي، والسيوطي، وابن الجوزي، وابن عطية، والخطابي، والقسطلاني، وأمثالهم كثير . وقد قرأت ما كتبه الشيخ : ربيع المدخلي في الرَّد على سيد قطب، ورأيته جعل العناوين لما ليس بحقيقة، فردّ عليه الشيخ بكر أبو زيد ـ حفظه الله ـ . وكذلك تحامل على الشيخ : عبد الرحمن عبد الخالق، وجعل في كلامه أخطاء مضللة مع طول صحبته له من غير نكير . وعين الرضا عن كل عيب كليلة ولكن عين السخط تبدي المساويا
كتبه : عبد الله بن عبد الرحمن الجبرين عضو الإفتاء : 17/8/1416
akhir ini kita sering mendengar, diantara saudara sesama muslim menyebarkan isu tentang tuduhan adanya penyimpangan dua orang ulama Mesir; As-Syahid Hasan Al-Banna dan Sayyid Quthub, keduanya dianggap sebagai pawang ahli bid’ah dan pembawa ajaran sesat, bahkan ada yang berarti menyatakan: “Sungguh, membaca buku porno lebih baik daripada membaca buku-buku tulisan tokoh sesat dan menyesatkan dari golongan Ikhwanul Muslim seperti Hasan Albanna, Muhammad Al-Ghazali, Yusuf Qharadawi, atau orang-orang yang sejenis”. (Astaghfirullah al-azhim) sumber dari salah satu email (pembela_sunnah@yahoo.co.id). Padahal dirinya -seperti yang ditulis dalam situs tersebut- menyatakan diri sebagai pembela sunnah tapi mengapa sampai keluar pernyataan seperti itu… semoga kita terlindung dari kata-kata, pernyataan dan ungkapan yang tidak sebenarnya… karena jika benar demikian, maka rugilah kita, banyaknya amal kebaikan yang kita lakukan akan sirna begitu saja oleh karena ungkapan yang tidak sebenarnya, bahkan kelak Allah akan diambil kebaikan orang yang mengungkapkan sesuatu yang tidak sebenarnya untuk diberikan kepada orang yang dituduhkannya… Naudzubillah min dzalik…Berikut kami sajikan ungkapan salah seorang ulama anggota lembaga ulama Saudi tentang sikap beliau terhadap Imam As-Syahid Hasan Al-Banna dan As-Syahid Sayyid Qutbub…Segala puji bagi Allah semata.Menggelari orang lain sebagai mubtadi’ (pelaku bid’ah) atau fasik (pelaku dosa besar) adalah perbuatan yang tidak dibenarkan atas umat Islam, karena Rasulullah bersabda:“Barangsiapa yang mengatakan kepada saudaranya: “Wahai musuh Allah”, sedang kenyataannya tidak seperti itu, maka ucapannya itu menimpa dirinya sendiri.” (Muslim).“Barangsiapa yang mengkafirkan seorang muslim, maka ucapan itu tepat adanya pada salah satu di antara keduanya.” ( Al-Bukhari dan Muslim).“Bahwa ada seseorang yang melihat orang lain melakukan dosa, lalu ia berkata kepadanya: ‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu’. Maka Allah berfirman: ‘Siapakah gerangan yang bersumpah atas (Nama)Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuninya dan Aku gugurkan (pahala) amalmu’.” (HR. Muslim).Kemudian saya ingin mengatakan bahwa Sayid Quthub dan Hasan Al-Banna termasuk para ulama dan tokoh dakwah Islam. Melalui dakwah mereka berdua, Allah telah memberi hidayah kepada ribuan manusia.
Partisipasi dan andil dakwah mereka berdua tak mungkin diingkari. Itulah sebabnya, Syaikh Abdulaziz bin Baaz mengajukan permohonan dengan nada yang lemah lembut kepada Presiden Mesir saat itu, Jamal Abdunnaser “ semoga Allah membalasnya dengan ganjaran yang setimpal – untuk menarik kembali keputusannya menjatuhkan hukuman mati atas Sayid Quthub, meskipun pada akhirnya permohonan Syaikh Bin Baaz tersebut ditolak.Setelah mereka berdua (Sayid Quthub dan Hasan Al-Banna) dibunuh, nama keduanya selalu disandangi sebutan “Asy-Syahid” karena mereka dibunuh dalam keadaan terzalimi dan teraniaya. Penyandangan sebutan “Asy-Syahid” tersebut diakui oleh seluruh lapisan masyarakat dan tersebarluaskan lewat media massa dan buku-buku tanpa adanya protes atau penolakan.Buku-buku mereka berdua diterima oleh para ulama, dan Allah memberikan manfaat – dengan dakwah mereka – kepada hamba-hambaNya, serta tak ada seorang pun yang telah melemparkan tuduhan kepada mereka berdua selama lebih dari duapuluh tahun. Bila ada kesalahan yang mereka lakukan, maka hal yang sama telah dilakukan oleh Imam Nawawi, Imam Suyuthi, Imam Ibnul Jauzi, Imam Ibnu ‘Athiyah, Imam Al-Khaththabi, Imam Al-Qasthalani, dan yang lainnya.Saya telah membaca apa yang ditulis oleh Syaikh Rabie’ bin Hadi Al-Madkhali (ulama muda Saudi yang anti IKHWAN-pen) tentang kitab bantahannya terhadap Sayid Quthub, tapi saya melihat tulisannya itu sebagai contoh pemberian judul yang sama sekali jauh dari kenyataan yang benar. Karena itulah, tulisannya tersebut dibantah oleh Syaikh Bakr Abu Zaid (juga anggota hai’ah Kibaril ‘Ulama KSA-pen) hafidzhahullahMata
cinta # terasa letih memandang aibTapi mata benci # selalu melihat
aibAbdullah bin Abdurrahman bin Jibrin26 Shafar 1417 H
.فتوى سماحة الشيخ عبدالله بن جبرين
في ( حسن البنا وسيد قطب ( رحمهما الله ):الحمد لله وحده، وبعد : لا يجوز التبديع والتفسيق للمسلمين لقول النبي صلى الله عليه وسلم: ((من قال لأخيه يا عدو الله وليس كذلك إلاَّ حار عليه )) . وفي الحديث : (( أنَّ من كفر مسلمـًا فقد باء بها أحدهما )) . وفي الحديث : (( أنَّ رجلاً مَـرَّ برجل وهو يعمل ذنبـًا فقال : والله لا يغفر الله لك . فقال : من ذا الذي يتألى عليَّ ألاَّ أغفر لفلان، إنَّي غفرت له وأحبطت عملك )) . ثم أقـول : إنَّ سيد قطب وحسن البنا من علماء المسلمين، ومن أهل الدعوة، وقد نفع الله بهما وهدى بدعوتهما خلقـًا كثيرًا، ولهما جهود لا تنكر، ولأجل ذلك شفع الشيخ : عبد العزيز بن باز في سيد قطب عند ما قرر عليه القتل، وتلطّف في الشفاعة فلم يقبل شفاعته الرئيس جمال، عليه من الله ما يستحق . ولَمَّا قتل كل منهما أطلق على كل واحد أنَّه شهيد؛ لأنَّه قتل ظلمـًا، وشهد بذلك الخاص والعام، ونشر ذلك في الصحف والكتب بدون إنكار . ثم تلقّى العلماء كتبهما، ونفع الله فيها، ولم يطعن أحد فيهما منذ أكثر من عشرين عامـًا . وإذا وقع منهما أخطاء يسيرة في التأويل أو نحوه فلا يصل إلى حدّ التكفير، فإنَّ العلماء الأوّلين لهم مثل ذلك، كالنووي، والسيوطي، وابن الجوزي، وابن عطية، والخطابي، والقسطلاني، وأمثالهم كثير . وقد قرأت ما كتبه الشيخ : ربيع المدخلي في الرَّد على سيد قطب، ورأيته جعل العناوين لما ليس بحقيقة، فردّ عليه الشيخ بكر أبو زيد ـ حفظه الله ـ . وكذلك تحامل على الشيخ : عبد الرحمن عبد الخالق، وجعل في كلامه أخطاء مضللة مع طول صحبته له من غير نكير . وعين الرضا عن كل عيب كليلة ولكن عين السخط تبدي المساويا
كتبه : عبد الله بن عبد الرحمن الجبرين عضو الإفتاء : 17/8/1416
bahaya hizbiyah
Tidak ada satupun yang lebih berbahaya bagi da'wah Islamiyah dewasa ini ketimbang Fanatisme Hizbiyah (Fanatik Golongan). Ia merupakan penyakit berbahaya yang bakal mencerai beraikan ukhuwah Islamiyah. Ia pasti akan memutuskan ikatan-ikatan kuat tali ukhuwah, dan akhirnya akan mengotori kesuciannya.
Adakah dibenarkan seorang muslim menunjukan wajah ceria, senyum lebar dan salam hangatnya hanya kepada orang satu kelompok atau satu jama'ah saja ..? Sementara kepada orang dari kelompok lain ia bermuka masam, bersikap dingin dan hambar ..? Adakah dibenarkan seorang muslim mengabaikan kesalahan-kesalahan yang dilakukan shahabat kelompoknya, sementara apabila orang lain melakukan kesalahan yang sama, ia rajin menggunjingkan dan menyebarluaskannya..?
Apabila seorang di antara anggota kelompok (hizbiyah) ini anda beri peringatan karena fikrah atau tashawwur (orientasi berfikir)nya menyimpang (munharif), maka ia akan segera memberikan pembelaan-pembelaan dengan dalih : "Ini hanyalah kekeliruan, tetapi tidak merusak prinsip".
Disebabkan fanatisme hizbiyah inilah maka anda lihat, seseorang tidak akan mau melakukan tela'ah, belajar atau menimba ilmu, melainkan hanya dari satu arah saja, yaitu hanya dari buku-buku, tulisan orang sekelompoknya dan dari orang-orang tertentu yang telah diwasiatkan tidak boleh belajar melainkan hanya kepada mereka.
Dari situlah lahir cakrawala berpikir sempit, dan manusia-manusia yang berkepribadian keji. Ia tidak melihat melainkan hanya dari satu sudut pandang,dan tidak tahu menahu (persoalan) melainkan hanya pemikiran itu satu-satunya.
Namun, mengapa hizbiyah semacam ini bisa menyusup ke dalam shaf (barisan) da'wah ..? Siapakah pula pendukungnya sehingga ia tetap berlangsung..?
Sesungguhnya telah jelas bahwa hizbiyah adalah suatu pola dari sebuah tarbiyah buruk yang dilakukan guna menangani penggarapan diri seorang manusia, kemudian dikatakannyalah padanya (bahwa) :"Kamilah kelompok paling afdhal, sedangkan selain kami, masing-masing mempunyai kekurangan itu ....". Semua itu karena setiap kelompok hizbiyah ingin menghimpun dan memperbanyak jumlah anggota.
Sebagai konsekwensinya, maka mereka harus menjatuhkan nama kelompok lain supaya orang jangan sampai masuk menjadi kelompok lain tersebut. Seakan-akan kita ini menjadi kelompok-kelompok kontetstan dari beberapa partai yang bersaing guna merebut kemenangan dalam suatu pemilihan umum. Sampai-sampai terkadang perlu membeli suara massa dengan klaim-klaim memikat dan dengan harta benda.
Dari tarbiyah seperti inilah, akhirnya seseorang harus sudah terpisah dari majlis-majlis para ulama atau orang-orang berilmu semenjak pertama ia menerjuni dunia da'wah atau ketika untuk pertama kalinya ia ingin mencari ilmu, sehingga ia tidak bisa mengenyam tarbiyah para ulama yang mentarbiyah dengan adab, akhlaq dan pengalaman mereka.
Kalau demikian keadaannya, maka niscaya dia bakal menyerap (ilmu) dari orang-orang yang aktif menjalankan amaliyah tarbiyah. Jika kebetulan orang itu memiliki ilmu dan tidak mempunyai ambisi kepemimpinan, bisa jadi tarbiyahnya mendekati benar. Tetapi seandainya orang-orang itu (ternyata) menyukai kedudukan atau dalam dirinya terdapat unsur penipuan ilmu, maka tentu, dari tarbiyah ini akan terlahir pemuda-pemuda buruk yang fanatik terhadap kelompok.
Tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari penyakit ini, kecuali orang yang selalu mengambil perhatian sejak awal, dan mengerti bahwa ada beberapa bentuk tarbiyah yang secara pasti akan menunjukkan hizbiyah. Untuk itu dia akan merasa takut dan berusaha membentengi diri. Dia akan selalu mawas diri, selalu melihat ke belakang, selalu memperbaharui langkah-langkahnya dan selalu melakukan pembaharuan setiap saat, sehingga dirinya tidak terjatuh ke dalam cengkeraman penyakit berbahaya yang keburukan serta malapetakanya merajalela ini.
Diterjemahkan secara bebas dari majalahAl-Bayan, No. 59 Rajab 1413H, Januari 1993M. hal. 46-47
Adakah dibenarkan seorang muslim menunjukan wajah ceria, senyum lebar dan salam hangatnya hanya kepada orang satu kelompok atau satu jama'ah saja ..? Sementara kepada orang dari kelompok lain ia bermuka masam, bersikap dingin dan hambar ..? Adakah dibenarkan seorang muslim mengabaikan kesalahan-kesalahan yang dilakukan shahabat kelompoknya, sementara apabila orang lain melakukan kesalahan yang sama, ia rajin menggunjingkan dan menyebarluaskannya..?
Apabila seorang di antara anggota kelompok (hizbiyah) ini anda beri peringatan karena fikrah atau tashawwur (orientasi berfikir)nya menyimpang (munharif), maka ia akan segera memberikan pembelaan-pembelaan dengan dalih : "Ini hanyalah kekeliruan, tetapi tidak merusak prinsip".
Disebabkan fanatisme hizbiyah inilah maka anda lihat, seseorang tidak akan mau melakukan tela'ah, belajar atau menimba ilmu, melainkan hanya dari satu arah saja, yaitu hanya dari buku-buku, tulisan orang sekelompoknya dan dari orang-orang tertentu yang telah diwasiatkan tidak boleh belajar melainkan hanya kepada mereka.
Dari situlah lahir cakrawala berpikir sempit, dan manusia-manusia yang berkepribadian keji. Ia tidak melihat melainkan hanya dari satu sudut pandang,dan tidak tahu menahu (persoalan) melainkan hanya pemikiran itu satu-satunya.
Namun, mengapa hizbiyah semacam ini bisa menyusup ke dalam shaf (barisan) da'wah ..? Siapakah pula pendukungnya sehingga ia tetap berlangsung..?
Sesungguhnya telah jelas bahwa hizbiyah adalah suatu pola dari sebuah tarbiyah buruk yang dilakukan guna menangani penggarapan diri seorang manusia, kemudian dikatakannyalah padanya (bahwa) :"Kamilah kelompok paling afdhal, sedangkan selain kami, masing-masing mempunyai kekurangan itu ....". Semua itu karena setiap kelompok hizbiyah ingin menghimpun dan memperbanyak jumlah anggota.
Sebagai konsekwensinya, maka mereka harus menjatuhkan nama kelompok lain supaya orang jangan sampai masuk menjadi kelompok lain tersebut. Seakan-akan kita ini menjadi kelompok-kelompok kontetstan dari beberapa partai yang bersaing guna merebut kemenangan dalam suatu pemilihan umum. Sampai-sampai terkadang perlu membeli suara massa dengan klaim-klaim memikat dan dengan harta benda.
Dari tarbiyah seperti inilah, akhirnya seseorang harus sudah terpisah dari majlis-majlis para ulama atau orang-orang berilmu semenjak pertama ia menerjuni dunia da'wah atau ketika untuk pertama kalinya ia ingin mencari ilmu, sehingga ia tidak bisa mengenyam tarbiyah para ulama yang mentarbiyah dengan adab, akhlaq dan pengalaman mereka.
Kalau demikian keadaannya, maka niscaya dia bakal menyerap (ilmu) dari orang-orang yang aktif menjalankan amaliyah tarbiyah. Jika kebetulan orang itu memiliki ilmu dan tidak mempunyai ambisi kepemimpinan, bisa jadi tarbiyahnya mendekati benar. Tetapi seandainya orang-orang itu (ternyata) menyukai kedudukan atau dalam dirinya terdapat unsur penipuan ilmu, maka tentu, dari tarbiyah ini akan terlahir pemuda-pemuda buruk yang fanatik terhadap kelompok.
Tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari penyakit ini, kecuali orang yang selalu mengambil perhatian sejak awal, dan mengerti bahwa ada beberapa bentuk tarbiyah yang secara pasti akan menunjukkan hizbiyah. Untuk itu dia akan merasa takut dan berusaha membentengi diri. Dia akan selalu mawas diri, selalu melihat ke belakang, selalu memperbaharui langkah-langkahnya dan selalu melakukan pembaharuan setiap saat, sehingga dirinya tidak terjatuh ke dalam cengkeraman penyakit berbahaya yang keburukan serta malapetakanya merajalela ini.
Diterjemahkan secara bebas dari majalahAl-Bayan, No. 59 Rajab 1413H, Januari 1993M. hal. 46-47
Langganan:
Postingan (Atom)




